Warning: A non-numeric value encountered in /home/u6541325/public_html/mitrakitanews.com/wp-content/plugins/wp-smushit-pro/lib/class-wp-smush.php on line 1880

Calon Jemaah Haji Meninggal Bisa Digantikan Keluarganya, Ini Ketentuannya

270

MITRAKITANEWS.COM, Jakarta – Pada tahun 2018 Kementerian Agama telah mengeluarkan kebijakan baru dalam penyelenggaraan jamaah haji 1439 H/2018 M. Untuk calon jemaah haji yang wafat sebelum keberangkatan dapat digantikan dengan pihak keluarga.

Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri, Ahda Barori, mengatakan mulai tahun ini porsi calon jemaah haji yang wafat sebelum berangkat ke Arab Saudi.

“Apabila calon jemaah haji wafat sebelum berangkat ke Arab Saudi maka porsinya bisa digantikan oleh keluarganya,” ujar Ahda di Jakarta, Kamis (19/04/2018) dilansir MitrakitaNEWS dari laman Kemenag.go.id.

Menurutnya, ketentuan ini tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nomor 148 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelunasan BPIH Reguler Tahun 1439 H/2018 M.

Berikut ini ketentuan pelimpahan nomor porsi bagi calon jemaah haji yang wafat:

  1. Permintaan dari keluarga jemaah yang sudah ditetapkan berhak melunasi, namun wafat sebelum berangkat.
  2. Kebijakan wafat yang dapat digantikan adalah jemaah yang sudah ditetapkan berhak melunasi BPIH dan waktu wafatnya pasca ditetapkan sebagai berhak lunas tahun berjalan.
  3. Orang yang dapat menggantikan calon jemaah wafat adalah suami/istri/anak kandung/menantu. Pengajuan penggantian ini harus diketahui RT, RW, Lurah, dan Camat.
  4. Verifikasi data pengajuan penggantian dilakukan di Kanwil Kemenag Provinsi dan Direktorat Pelayanan Haji Dalam Negeri Ditjen PHU.
  5. Jemaah haji pengganti diberangkatkan pada musim haji tahun berjalan atau tahun berikutnya.

Ahda menambahkan, calon jemaah haji pengganti harus mengajukan surat permohonan tertulis ke kantor Kemenag Kabupaten/Kota setempat dengan melampirkan beberapa dokumen.

Dokumen yang dimaksud, yaitu:

  1. Asli akta kematian dari Dinas Dukcapil setempat atau Surat Kematian dari Kelurahan/Desa diketahui Camat.
  2. Asli surat kuasa penunjukan pelimpahan nomor porsi jemaah wafat yang ditandatangani anak kandung, suami/istri, dan menantu yang diketahui oleh RT, RW, Lurah/Kepala Desa, dan Camat.
  3. Asli surat keterangan tanggung jawab mutlak yang ditandatangani calon jemaah haji penerima pelimpahan nomor porsi jemaah wafat dan bermaterai.
  4. Asli setoran awal dan atau setoran lunas BPIH.
  5. Salinan KTP, KK, Akta Kelahiran/Surat Kenal Lahir atau bukti lain yang relevan dengan jemaah haji yang wafat yang dilegalisir dan distempel basah oleh pejabat yang berwenang dengan menunjukan aslinya.

“Seluruh berkas pendukung harus diverifikasi oleh petugas Kankemenag Kabupaten/Kota, Kanwil, dan Ditjen PHU” terang Ahda. (TIM) 

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?
like
Bangga
1
love
Senang
0
haha
Terhibur
0
wow
Terkejut
0
sad
Sedih
0
angry
Marah
0
Berita Terkait
Komentar
Sedang memuat...