Warga Makedonia Pungut Suara Untuk Menentukan Perubahan Nama Negara

126

MITRAKITANEWS.COM, SKOPJE – Rakyat Makedonia memberikan suara dalam referendum pada hari Minggu (30/9/2018) untuk menentukan apakah akan mengubah namanya menjadi ‘Republik Makedonia Utara’. Langkah ini diambil untuk menyelesaikan perselisihan beberapa dekade dengan Yunani yang telah memblokir tawaran keanggotaannya untuk Uni Eropa dan NATO.

Yunani, yang memiliki sebuah provinsi bernama Macedonia, menyatakan bahwa nama tetangga utaranya mewakili klaim atas wilayahnya dan telah memveto masuk ke NATO dan Uni Eropa.

Kedua pemerintah mencapai kesepakatan pada bulan Juni berdasarkan nama baru yang diusulkan, tetapi para penentang nasionalis berpendapat perubahan itu akan merusak identitas etnik penduduk mayoritas Slavia Macedonia.

Presiden Gjorge Ivanov mengatakan, dia tidak akan memilih dalam referendum dan kampanye boikot telah menimbulkan keraguan apakah partisipasi akan memenuhi 50 persen minimum yang diperlukan untuk referendum menjadi valid.

Pertanyaan pada surat suara referendum berbunyi: “Apakah Anda untuk NATO dan keanggotaan Uni Eropa dengan penerimaan perjanjian dengan Yunani”.

Pendukung perubahan nama, termasuk Perdana Menteri Zoran Zaev, berpendapat bahwa itu adalah harga yang layak dibayar untuk masuk ke badan-badan seperti Uni Eropa dan NATO untuk Makedonia, salah satu negara yang muncul dari runtuhnya Yugoslavia.

“Saya datang hari ini untuk memilih masa depan negara, untuk orang-orang muda di Makedonia, sehingga mereka dapat hidup bebas di bawah payung Uni Eropa karena itu berarti kehidupan yang lebih aman bagi kita semua,” kata Olivera Georgijevska, 79, di Skopje seperti dikutip dari laman reuters.

Meskipun tidak mengikat secara hukum, cukup banyak anggota parlemen mengatakan mereka akan mematuhi hasil suara untuk membuatnya menentukan. Perubahan nama akan membutuhkan dua pertiga mayoritas di parlemen.

Komisi pemilihan negara mengatakan tidak ada laporan ketidakberesan pada pukul 1 siang. (11:00 GMT). Namun, jumlah pemilih hanya 16 persen, dibandingkan 34 persen dalam pemilihan parlemen terakhir pada tahun 2016 dimana 66 persen pemilih terdaftar memberikan suara mereka.

Pemilih lainnya, Gjose Tanevski (62) mengatakan, dia ikut memilih demi anak-anaknya karena dia merasa tempat mereka di Eropa. (TIM)

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?
like
Bangga
0
love
Senang
0
haha
Terhibur
0
wow
Terkejut
1
sad
Sedih
0
angry
Marah
1
Berita Terkait
Komentar
Sedang memuat...