Hakim Vonis 1 Tahun Penjara ke Seorang Terdakwa pada Kasus Polisi Jual Sabu Sitaan di Sumut

MitrakitaNEWS | Tanjungbalai – Hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungbalai menjatuhkan vonis lebih ringan serta diluar dugaan dari tuntutan jaksa terhadap seorang terdakwa Leonardo Aritonang, Polisi yang ikut didakwa menjual sabu hasil sitaan di Sumatera Utara (Sumut) dalam sidang digelar Kamis (17/2/2022).

Jaksa sebelumnya menuntut Leo dengan hukuman pidana penjara mati. Sementara tim hakim PN Tanjungbalai berjumlah 5 orang yang mengadili perkara ini memberikan vonis 1 tahun penjara kepada terdakwa.

“Menyatakan terdakwa Leonardo Aritonang alias Leo telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dengan sengaja tidak melaporkan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 119 undang undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika sebagaimana dalam dakwan dimaksud,” kata hakim ketua Salomo Ginting dalam pembacaan vonisnya yang didengarkan terdakwa melalui virtual dari lembaga pemasyarakatan.

BACA JUGA
1 dari 2

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu, dengan pidana penjara satu tahun,” ujarnya.

Leonardo merupakan bagian dari 11 rombongan Polisi yang sebelumnya ikut didakwa menjual sabu hasil sitaan pada bulan Mei 2021 lalu.

Vonis yang diterimanya yang paling ringan jika dibandingkan rekan-rekan lainnya mulai dari hukuman mati, penjara seumur hidup, hingga penjara 18 – 15 tahun.

Usai mendengar pembacaan vonis dari hakim, Leonardo menyatakan pikir-pikir termasuk dengan jaksa penuntut.< Dikonfirmasi usai persidangan, Jaksa Penuntut Rikardo Simanjuntak mengatakan pihaknya tetap menghormati hasil putusan hakim. "Tentunya kita juga masih mempelajari hasil putusan hakim yang baru dibacakan tadi, kita juga telah mengambil sikap untuk pikir-pikir selama tujuh hari, sekaligus juga nanti secara bersamaan dengan perkara yang lain kami nanti akan melaporkan terlebih dahulu kepada pimpinan secara berjenjang," kata Rikardo. Sementara itu, Joshua Joseph Eliazer Sumanti, juru bicara PN Tanjungbalai juga merupakan salah satu hakim anggota yang ikut memutus vonis terhadap terdakwa mengatakan majelis hakim memandang bedanya peran dari masing-masing terdakwa mendasari bedanya pengambilan keputusan termasuk terhadap terdakwa Leonardo. "Untuk terdakwa Leonardo majelis hakim memang mengambil sikap yang berbeda dari penuntut umum. Karena dalam fakta persidangan tidak ada yang dapat menunjukkan atau membuktikan keterlibatan Leonardo terkait penyisihan barang bukti atau penjualan narkotika," jelas Joshua. Majelis hakim, lanjut Joshua lagi mendapati fakta bahwa Leonardo hanya mengetahui dan melihat saat terdakwa lainnya menyisihkan narkotika jenis sabu dibungkus dalam goni saat kapal yang ditumpanginya membawa barang bukti dan dalam perjalanan menuju dermaga Satpolair. Leo juga sama sekali tak pernah menikmati uang hasil penjualan sabu yang dilakukan oleh rekan-rekannya. "Oleh karenanya perbuatan Leonardo tersebut patut dikualifikasikan ke dalam pasal 131 Undang - Undang Narkotika, mengetahui tapi tidak melaporkan. Dan dalam pasal tersebut ancaman hukuman maksimalnya 1 tahun penjara," jelas Joshua. Dalam sidang tersebut, selain memberikan vonis terhadap Leonardo, hakim juga memberikan vonis kepada terdakwa 2 Polisi lainnya yakni Syahril Napitupulu 18 tahun penjara dan Khoiruddin 16 tahun penjara. Dengan demikian dalam rangkaian kasus ini hakim PN Tanjungbalai telah memberikan vonis kepada 11 rombongan Polisi yang didakwa menyisihkan dan menjual sabu sitaan, 3 diantranya hukuman mati terhadap Tuharno, Wariono dan Agung Sugiharto Putra. Sementara sisanya selain Leonardo Aritonang yang hanya menerima hukuman 1 tahun penjara, hakim memberikan hukuman antara 18 hingga 15 tahun penjara kepada 7 terdakwa lainnya.

Berita Terkait