Sepatu Bunut Kisaran : ‘Menolak Lekang’ Meski Tertatih Bertahan

464

MitrakitaNEWS | Asahan – Saat ini, tak banyak masyarakat yang tau, ada sebuah tempat di Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara (Sumut) dahulu kala ada sentra pembuatan sepatu dan sandal ternama dan pernah jaya di awal tahun 1980-an. Bahkan pemasarannya bisa menembus pasar di Eropa.

Namanya sepatu Bunut. Nama Bunut, diambil dari sebuah kelurahan yang berada di bagian barat kota Kisaran ini, dulunya pernah ada sebuah pabrik karet yang menghasilkan tapak sepatu / sandal berkualitas berbahan kulit. Tak kalah dari Cibaduyut.

Kini pabrik karet tersebut sudah puluhan tahun tutup. Namun bekas buruh pabrik meneruskan keahlian mereka membut tapak sepatu dan sandal dan bertahan hingga turun temurun yang salah satunya pengrajinnya adalah Sutomo (55).

“Dulu di Bunut ini ada pabrik karet punya orang Amerika, yang salah satu usahanya bikin percetakan tapak sepatu dan sandal sekitar tahun 70-an lah,” kata Sutomo saat berbincang bersama wartawan, Rabu (16/9/2021).

Ia menceritakan, saat itu orang tuanya dan warga kampung sekitar terberdayakan dengan kehadiran pabrik karet Uni Royal yang saat ini bernama PT Bakrie Sumatera Plantation (BSP) yang memproduksi tapak sepatu tersebut hingga akhirnya pabrik itu berhenti beroperasi. Untuk diketahui, wilayah Kabupaten Asahan dan sekitarnya memang dahulu dikenal wilayah perkebunan sebagai salah penghasil karet terbaik di dunia pada masanya.

“Lupa tahun berapa itu tutupnya. Yang jelas habis itu, orang orang sini kan sudah punya keahlian bikin sepatu itu lalu buat – buat sendiri dengan pengalaman dari sana,” kata Sutomo.

Ia juga mengatakan, era kejayaan sepatu bunut ada di tahun 80-an hingga awal tahun 2000-an. Pengrajin sepatu yang membuat lalu memasarkan sendiri produknya di rumah – rumah mereka. Lokasi kelurahan Bunut, tempat pemasaran sepatu ini juga berada strategis di pinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) jalur Timur menuju kota Medan.

“Kalau jaman dulu, memang dengar ceritanya sepatu ini sampai eropa,” kenang dia.

Jufri, (40) seorang pengrajin lainnya ditemui di lokasi pembuatan sepatu bunut mengatakan saat ini produksi maupun penjualan yang bisa dihasilkan jauh lebih merosot apalagi dimasa pandemi.

Di tempat usaha produksi milikya, ia mempekerjakan 7 orang pegawai. Sepatu bunut, selain punya nama tersohor memiliki kualitas baik dengan pemakaian awet dan tahan lama. Untuk mendapatkan sepasang sepatu ini dibandrol mulai harga Rp 100 hingga Rp 500 ribu.

Sepatu bunut, diklaim mempunyai kualitas yang baik dan jahitan yang rapi. Modelnya kini beragam dan cocok dipakai untuk dalam setiap kegiatan acara, hingga pertemuan..

Kini, dalam sehari rata-rata pengusaha sepatu bunut hanya bisa memproduksi selusin pasang sepatu maupun sandal, disamping permintaan yang juga sepi terutama di masa pandemi.

“Kalau sekarang sepi, setiap tahun makin merosot penjualannya. Apalagi kan sudah hampir dua tahun ini covid. Biasanya ramai waktu lebaran, banyak orang melintas dari mana mana ada dari Jawa juga, singgah beli oleh-oleh sepatu disini,” kata dia.

Hingga sampai saat ini, kejayaan sepatu bunut belum kembali meski sudah banyak pihak yang mendorong membantu pengrajin atau pengusaha meningkatkan produksinya. Diperlukan sinergitas semua pihak untuk meningkatkan kembali masa jaya sepatu bunut ini. (Perdana)

Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini?
like
Bangga
0
love
Senang
0
haha
Terhibur
0
wow
Terkejut
0
sad
Sedih
0
angry
Marah
0
Berita Terkait
Komentar
Sedang memuat...