Kaleng Susu, Cara Unik UPK LKM Gembira Kelurahan Gambir Baru Tangani Tunggakan Ekonomi Bergulir

179

MitrakitaNEWS | Asahan – Kegiatan ekonomi bergulir merupakan salah satu kegiatan andalan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Bagaimana tidak, kegiatan ekonomi bergulir disebut sangat ampuh untuk menopang keberlanjutan lembaga yang dinaungi program KOTAKU, yakni Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM). Dalam pelaksanaannya, profit (keuntungan) dari kegiatan ekonomi bergulir dapat disalurkan untuk pelaksanaan pembangunan infrastruktur, bantuan sosial, penambahan modal ekonomi bergulir, maupun biaya operasional LKM.

Namun, dalam perjalanan kegiatan ekonomi bergulir tidak semulus yang dibayangkan, lika-liku tunggakan kerap terjadi. Mulai dari alasan permasalahan ekonomi peminjam yang notabene memiliki usaha kecil, hingga pindah domisili si peminjam.

Kemacetan pinjaman ini pun juga terjadi di kegiatan pinjaman bergulir KOTAKU Kabupaten Asahan, khususnya di Kelurahan Gambir Baru. Seperti diceritakan oleh Bu Amnizar selaku pimpinan kolektif LKM Gembira Kelurahan Gambir Baru.

“Tepatnya, kemacetan terjadi pada Maret 2015, yang macet ya dana PPMK. Tapi bukan terjadi di satu kelompok, namun setiap kelompok ada satu atau dua orang,” ujar Bu Amnizar saat menceritakan pengalaman kegiatan ekonomi bergulir di Kelurahan Gambir Baru kepada MitrakitaNEWS, Senin (12/09/2022).

Dikatakan Bu Amnizar, penyebab kemacetan cenderung dikarenakan sepinya penjualan dan beberapa orang di dalam kelompok itu pindah rumah. Dan nilai pinjaman yang macet cukup lumayan besar, mencapai Rp 30 juta lebih.

Karena kemacetan yang terjadi, kata Bu Amnizar, kolektibilitas Unit Pengelola Keuangan (UPK) yang menangani kegiatan ekonomi bergulir menjadi buruk. Tim Fasilitator pun akhirnya membekukan sementara perguliran dan turun tangan serta mengumpulkan semua LKM beserta UPK untuk identifikasi dan meminta klarifikasi kejadian tersebut.

“Tim Faskel meminta kami (LKM dan UPK) untuk rapat dan dihadiri juga oleh mereka (Tim Faskel). Di dalam rapat tersebut, Tim meminta kami agar dapat menyelesaikan persoalan itu dengan segera dan jangan sampai berlarut,” kata Bu Amnizar.

Dalam rapat itu juga, lanjut Bu Amnizar, Tim Faskel memberikan arahan dan juga strategi penyelesaian. Sehingga disepakati LKM beserta UPK akan membuat rapat internal untuk membahas permasalahan tunggakan dan menyusun rencana kerja penyelesaian.

Usai rapat dengan Tim Faskel, LKM beserta UPK melakukan rapat internal dalam menyikapi permasalahan tunggakan KSM. Pada rapat internal, disepakati disusunnya tim penyelesaian tunggakan. Pada kesempatan tersebut, Koordinator LKM Gembira, Julet Simanjuntak membagi peserta rapat menjadi 2 tim. Tim pertama bertugas untuk mengidentifikasi penunggak dan menelusuri rumah penunggak yang telah pindah. Tim kedua bertugas menyusun strategi untuk penyelesaian tunggakan.

Tim ini diberikan kesempatan seluas-luasnya bagaimana cara agar tunggakan dapat terselesaikan. Koordinator LKM meminta kepada masing-masing tim agar dapat menyampaikan hasil masing-masing dalam waktu 3 hari kedepan dan akan dibahas dalam rapat lanjutan.

Setelah 3 hari berlalu, cerita Bu Amnizar, UPK dan LKM kembali menggelar rapat lanjutan. Dalam rapat ini, membahas hasil sesuai tindak lanjut dari rapat sebelumnya.

Pada rapat itu, tim 1 diberikan kesempatan pertama untuk menyampaikan hasil investigasi mereka. Koordinator LKM, Julet Simanjuntak yang juga Koordinator tim 1 mengatakan, dari delapan penunggak, 5 diantaranya sudah pindah rumah.

“Jadi, dari penelusuran kami, 2 orang masih diseputar kota kisaran yaitu di kelurahan Mutiara dan Kelurahan Bunut Barat. Sedangkan 3 orang lagi pindah di luar kota kisaran yaitu di Kecamatan Pulo Bandring, Kecamatan Air Joman, dan Kecamatan Meranti. Sedangkan 3 orang lagi masih berdomisili di kelurahan kita,” kata Koordinator tim 1.

Selanjutnya, tim 2 menyampaikan hasil pembahasan mereka terkait strategi penyelesaian tunggakan. Pada kesempatan itu, Bu Amnizar yang selaku koordinator tim 2 mengatakan, strategi yang telah disusun mereka ada 3 langkah.

“Pertama, kita bersama-sama (LKM dan UPK) melakukan silaturahmi ke penunggak. Pendekatan ini mungkin akan membuka pikiran penunggak. Toh dulunya mereka yang sudah pindah juga warga kita. Dikesempatan itu kita sampaikan maksud tujuan kita. Kedua, kita re-schedule pinjaman mereka. Ketiga, kita siapkan kaleng susu kosong untuk mereka (penunggak) agar setiap hari maupun setiap minggu untuk mengisi kaleng susu tersebut. Ya seperti celengan untuk menabung, terserah mereka mau menabung berapa, yang penting sepakat untuk menabung dikaleng susu itu,” kata Bu Amnizar.

Lalu, kata Bu Amnizar, pada awal bulan selanjutnya, LKM dan UPK ataupun juru tagih UPK kembali menjemput dan membuka kaleng susu itu. Hasil dari kaleng susu nantinya menjadi pembayaran angsuran pinjaman mereka.

Peserta rapat pun sepakat dengan langkah yang diutarakan oleh tim 2 itu. Selanjutnya Koordinator meminta segera bersilaturahmi kepada penunggak. Sedangkan untuk penjemputan hasil kaleng susu, diserahkan seluruhnya kepada juru tagih UPK.

“Berselang 2 hari, kami laksanakan langkah-langkah itu. Kami datangi satu persatu yang menunggak. Dan Alhamdulillah mereka menerima dengan cara itu,” ujar Bu Amnizar.

Dan akhirnya, kata Bu Amnizar, selama 2 tahun berjalan strategi tersebut, seluruh tunggakan terselesaikan dengan baik.

“Proses penyelesaiannya dari tahun 2015 sampai tahun 2017. Butuh 2 tahun untuk selesai. Ya Alhamdulillah selesai,” kata Bu Amnizar.

Dilanjutkannya, kejadian ini menjadi pembelajaran bagi LKM Gembira untuk lebih selektif dalam memilih KSM dan juga semakin rutin untuk membuat pertemuan dengan KSM.

“Jadi kami rutin nih rapat. Pokoknya ada gak ada masalah harus rapat. Ya jangan ada masalah aja rapatnya. Jadi kalau rutin rapat, kan bisa terdeteksi langsung gambaran akan terjadi masalah dan gambaran masalah itu dapat dianulir langsung pada saat itu. Coba kalau sudah terjadi (masalah), ya bakalan jadi runyam nantinya,” ujar Bu Amnizar.

Usai permasalahan tunggakan tuntas, perguliran di Kelurahan Gambir Baru kembali dibuka oleh tim faskel dan Askot Mandiri. Pada saat itu, kata Bu Amnizar, tim hanya memberikan izin perguliran untuk 1 kelompok saja.

“Kita hanya diizinkan 1 kelompok dulu. Menurut tim, ini sebagai permulaan. Jika 3 bulan lancar, akan diizinkan 2 kelompok lagi. Jika lancar dalam 3 bulan juga, maka akan normal kembali,” kata Bu Amnizar.

Dalam perguliran itu, lanjut Bu Amnizar, keseluruhan lancar dan tidak ada tunggakan. Sehingga, perguliran kembali normal seperti semula.

“Jadi, setelah perguliran normal kembali, diawal tahun 2018 saat perhitungan laba, UPK sudah mengalami surplus,” ujar Bu Amnizar.

Namun, katanya lagi, surplus tidak terlalu besar. Hal ini dikarenakan adanya kemacetan sebelumnya dan perguliran yang sempat dibekukan.

“Namun pun demikian, ya tetap bersyukur, karena akhirnya kita berhasil membina KSM hingga surplus dan pengembalian 100 persen,” katanya lagi.

Lebih lanjut dijelaskan Bu Amnizar, dari awal perguliran kembali hingga saat ini, UPK LKM Gembira telah menyalurkan pinjaman kepada 19 kelompok peminjam atau 95 orang.

“Total keseluruhan kelompok saat ini ada 19 KSM atau 95 orang. Seluruhnya Alhamdulillah lancar hingga saat ini,” ujarnya lagi.

Diuraikannya, dari 19 KSM tersebut, 9 KSM merupakan peminjam PPMK, dan 10 KSM peminjam reguler. Dan disebutkannya, dana UPK hingga tahun 2022 ini telah mencapai Rp 300 juta lebih.

“Sekarang dana UPK sudah mencapai 300 jta rupiah lebih. Akumulasi antara yang beredar dan yang ada di rekening UPK,” kata Bu Amnizar.

Bahkan, kata Bu Amnizar, insentif UPK untuk saat ini rata-rata Rp 24 juta per tahun.

“Insentif UPK kita ambil per 3 bulan sekali. Ya setiap pengambilan insentif berkisar Rp 6 juta, jadi kalu ditotal sekitar Rp 24 juta setahun,” ujarnya.

Dilanjutkannya lagi, karena dinilai cukup lumayan insentif UPK, hal ini membuat banyak orang yang termotivasi ingin menjadi UPK.

“Karena insentifnya tergolong menggiurkan, jadi banyak nih sekarang yang mau jadi UPK. Mungkin pun pimpinan kolektif LKM kepingin jadi UPK,” candanya sambil tertawa.

Bu Amnizar pun menyarankan kepada seluruh LKM khususnya yang ada di Kabupaten Asahan untuk mencoba strategi yang pernah diterapkan di LKM nya itu.

“Ya mungkin cara ini bisa diterapkan oleh LKM lainnya ya. Walaupun tidak bisa dipungkiri lain lubuk lain ikannya, lain tempat lain caranya pula. Tapi setidaknya niat baik pasti hasilnya baik. Dan pengalaman kami ini bisa kami bagikan kepada yang lain karena efisien dalam penyelesaian tunggakan,” ucap Bu Amnizar.

Menariknya lagi, tambah Bu Amnizar, orang yang menunggak tadi jadi terbiasa menabung secara tradisional menggunakan kaleng susu. (Red)