Gerakan Urban Farming di Tengah Pandemi

36

MITRAKITANEWS.COM, Nasional – Pandemi Covid-19 merubah berbagai aspek kehidupan manusia, seperti aspek budaya, sosial, ekonomi, bahkan ritual ibadah umat beragama.

Pandemi saat ini juga menyadarkan banyak manusia akan pentingnya keseahatan untuk tetap dapat menjalankan kehidupan.

Untuk mengurangi serangan virus Covid-19 di Masa pandemi, Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan dan himbauan seperti menjauhkan masyarakat dari kerumunan, menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, membatasi perjalanan ke luar Kota, sampai meminta masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas dari rumah demi menekan penyebaran virus tersebut.

Pada sisi yang lain, adanya kebijakan pembatasan aktivitas sosial, para pekerja di perkotaan, buruh, tenaga kerja informal, pekerja harian, bahkan petani terancam penghasilanya karena bekurangnya pendapan bahkan sebagian terkena PHK.

Khusus untu para petani, beberapa laporan menyebutkan petani yang merupakan tonggak utama dalam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar pangan mengalami kesulitan karena harga jual yang rendah dan bekurangnya permintaan pasar.

loading...

Seperti yang di katakan Agus Ruli Ardiansyah, Sekretaris Umum DPP Serikat Petani Indonesia (SPI) yang mengatakan harga beberapa tanaman seperti beras, masih stabil. Hanya saja untuk jenis tanaman lainnya, seperti ubi, harga di tingkat petani masih sangat rendah.

“Hasil pertanian seperti beras, harga cenderung masih relatif sama dengan bulan sebelumnya (Oktober), dikarenakan bulan Oktober dan November masih ada petani yang melakukan panen. Kemungkinan Kenaikan harga akan terjadi pada Bulan Desember dan Januari mendatang,” ungkap Agus Ruli.

Menurut David Beasley, Direktur Eksekutif  World Food Programme (WFP) yang merupakan bagian dari PBB, 270 juta orang pada masyarakat dunia terancam menderita kelaparan pada 2020, salah satu faktornya karena  pandemi virus corona.

“Kegagalan memenuhi kebutuhan pangan manusia malah bisa menyebabkan pandemi kelaparan,” ujar direktur WFP Beasley dari markas besar WFP di Roma, di kutip dari channel News Asia.

Oleh karenanya, dalam menghadapi ancaman krisis pangan selama pandemi ini, diperlukan suatu gerakan sosial bersama, terkhusus warga masyarakat yang tinggal di perkotaan, seperti melalui gerakan urban farming (pertanian perkotaan).

Kegiatan Urban Farming

Kebiasaan baru yang membatasi aktifitas sosial di luar rumah karena masa pandemi Covid-19 menjadikan banyaknya waktu masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan di rumah, seperti kegaitan urban farming.

Menurut Co-Founder Citi Grower (gerakan kampanye digital konten urban farming), Asriyantie, Urban farming adalah sebuah konsep berkebun dengan memanfaatkan ruang yang ada di rumah atau pemukiman yang masih tersisa.

Urban Farming menjadi salah satu solusi ketahanan pangan di masyarakat perkotaan,” ujar Co-Founder Citi Grower, Asriyantie dalam webinar Suara.com bekerja sama dengan Satgas Covid-19 dengan tema Tren Urban Farming di Masa Pandemi Covid-19, Jumat, (18/12).

Di perkotaan, saat ini urban farming perlahan mulai populer, urban farming di masa pandemi memiliki potensi besar di Indonesia dalam memperkuat sektor pertanian di angka 16 persen.

Urban Farming menurut berbagai riset memiliki potensi besar di Indonesia dengan memperkuat sektor pertanian di angka 16%,” ungkapnya.

Pentingnya Urban Farming

Dengan melakukan aktivitas urban farming, masyarakat mendapat ketersediaan sayuran sebagai sumber nutrisi sehat, mengurangi impor sayuran, menyehatkan lingkungan, dan membantu mengurangi dampak pemanasan global.

Urban farming  tidak hanya gaya hidup kaum perkotaan, yang terpenting dapat meningkatkan kualitas makanan, gizi, kesehatan dan lingkungan sekitar.

loading...

Salah satu Praktisi urban farming Sita Pujianto, menyebutkan, berdasarkan pengalamanya menanam di rumah, sejumlah tanaman yang mudah dan cepat panen, antara lain bayam dan kangkung. juga ada rempah-rempah yang bagus untuk menjaga kesehatan di masa pandemi seperti kunyit dan kencur.

“Jika setiap rumah tangga memanfaatkan ruangan yang ada untuk berkebun, kita bisa mencukupi kebutuhan keluarga  juga akan menegakan ketahanan pangan bangsa Indonesia di tengah pandemi Covid-19,” sebutnya dalam kegaitan webinar Citigrower’s Urban Farming Series, Sabtu (29/11), bertema “Berkebun Mudah, Murah, dan Menyenangkan Mulai Darimana?.

Memulai Urban Farming

Menurut Rahmad, yang merupakan pegiat urban farming dari Sekolah Tani Muda (Sekti Muda) Yogyakarta, di kutip dari situs spi.or.id. (2020), bahwa kegiatan urban farmin dapat dikelola dengan menjaga kesuburan tanah.

Ada dua cara menjaga kesuburan tanah, yaitu: pertama, menjaga kesuburan tanah. Kedua, menambahkan media tertentu guna menjaga kesuburan tanah dalam jangka waktu yang cukup lama.

Beberapa langkah atau strategi yang perlu dipersiapkan dan diperhatikan dalam melakukan urban farming yang berkelanjutan, yaitu:

  1. Media tanam yang terdiri dari tanah, pupuk kendang, sekam, cocopit (agar gembur jika tanah yang digunakan adalah tanah yang cenderung lempung) dengan perbandingan 2:1:1:1, kemudian di campur rata. Media tanam ini minimal memiliki ketebalan 10-15 cm.
  2. Membuat media itu subur. Ada 3 indikator kesuburan tanah, yaitu: kesuburan fisik (tanah terlihat gembur), kesuburan biologis (ada aktivitas mikroorganisme), dan kesuburan kimiawi atau yang biasa kita kenal sebagai pupuk nitrogen, phospat, dll.
  3. Memilih komoditas. Menanam berbacam komoditas dalam satu waktu agar dapat dipanen secara bersamaan atau berdekatan. Pastikan benih yang digunakan cocok untuk dataran rendah.
  4. Memastikan dirawat secara optimal sampai panen dengan merawat kesuburan tanah.

Di akhir, apapun kegiatan yang kita lakukan di tengah masa pandemi Covid-19 ini, mari selalu menerapkan himbauan pemerintah untuk selalu menjaga protokol keseahtan seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan. (Syahmi).

 

 

Berita Terkait
Komentar
Sedang memuat...
error: Content is protected !!