Hina Raja di Medsos, Wanita Thailand Dijatuhi Hukuman 43 Tahun Penjara

178

MITRAKITANEWS.COM, Bangkok – Pengadilan Thailand pada Selasa (19/1) telah menjatuhkan vonis 43 tahun penjara kepada Anchan (65) mantan pegawai negeri sipil (PNS) atas tuduhan menghina raja.

Pengacara Hak Asasi Manusia Thailand, Pawinee Chumsri, kepada Reuters mengatakan, Anchan Preelert didakwa bersalah atas 29 pelanggaran dalam berbagi postingan di Facebook dan video klip di YouTube antara 2014 dan 2015.

Anchan awalnya dijatuhi hukuman 87 tahun tetapi karena dia telah mengakui pelanggarannya, pengadilan memotong setengahnya, kata pengacara itu.

“Ini adalah hukuman penjara tertinggi yang pernah ada dalam kasus lese majeste,” ujar Pawinee.

Menurut Pawinee, Anchan dapat mengajukan banding atas hukuman tersebut di dua pengadilan yang lebih tinggi, kata .

loading...

Amnesty International juga menyatakan kekecewaan atas apa yang juga dikatakan oleh dua kelompok hak asasi Thailand sebagai hukuman terlama di Thailand karena menghina monarki.

Sebelumnya, Pejabat keamanan menggerebek rumah Anchan pada Januari 2015, beberapa bulan setelah pemerintah sipil digulingkan dalam kudeta militer.

Kasusnya, yang awalnya dibawa ke pengadilan militer, dipindahkan ke pengadilan sipil setelah pemilihan umum 2019, yang membuat mantan pemimpin junta Prayuth Chan-ocha tetap menjabat sebagai perdana menteri.

Setidaknya 169 orang didakwa dengan lese majeste setelah kudeta 2014, menurut kelompok hak pengacara, dengan beberapa kasus membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproses.

Pihak berwenang sempat berhenti menggunakan undang-undang lese majeste pada 2018. Tetapi polisi mulai menerapkannya lagi akhir tahun lalu setelah para pemimpin protes, yang menarik puluhan ribu orang, mulai secara terbuka mengkritik monarki.

Sejak November, lebih dari 40 aktivis pemuda telah didakwa di bawah hukum. Tak satu pun dari kasus tersebut dibawa ke pengadilan.

Pada hari Senin, pria lain yang ditangkap pada tahun 2014 dijatuhi hukuman lebih dari empat tahun penjara setelah menerbitkan artikel dan puisi online yang menurut pengadilan berisi kebohongan tentang monarki. (Red)

loading...
error: Content is protected !!