Kerang Darah Salah Satu Mengangkat Penghasil Warga Kampung Sungai Burung

224

MITRAKITANEWS.COM, Tulangbawang – Mayoritas masyarakat kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulangbawang berprofesi sebagai nelayan. Warga menggantungkan sumber penghasilannya dari hasil laut seperti ikan, udang, dan kepiting (rajungan) untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Selain itu, kampung Sungai Burung ini ternyata merupakan penghasil sekaligus pemasok “Kerang Darah” terbesar pasaran di Lampung dan juga penjualan sudah menembus pasaran manca negara. Rata-rata, hasil panen kerang ini mencapai 3-4 ton/hari.

Hal ini terpantau pada saat Dinas Kominfo Tulangbawang bersama IWO meninjau langsung ke kampung Sungai Burung, dalam rangka menggali destinasi wisata di kampung setempat pada hari Minggu (21/02/2021).

Baca Juga :
Anggota DPRD Sumut, H Armyn Simatupang,SH Reses di Tinggi Raja

Gugatan Nurhajizah-Henri Kandas di MK, Surya-Taufik Melenggang Pimpin Asahan

loading...

“Hampir semua warga kampung Sungai Burung ini usaha budidaya kerang darah. Karena budidaya kerang ini sangat menjanjikan dan dapat menopang kebutuhan kami. Karena dalam kurun waktu 4 sampai 5 bulan, sudah bisa dipanen dan tidak rumit juga cara budidayanya. Tanpa di beri pakan bisa menghasilkan,” ungkap Sekertaris kampung Sei Burung, Mashuri, kepada wartawan.

Mashuri juga menjelaskan, dalam 1 hari warga kampung panennya bisa mencapai 3-4 ton/hari. Sehingga dalam satu bulan itu bisa mencapai ratusan 100 ton.

“Dan untuk harga kami jual kisaran Rp.13.000 sampai Rp.16.000 per kilogram. Itu pun tergantung dari size besar kecilnya. Sedangkan untuk yang size super itu bisa mencapai ratusan ribu per kilogramnya,” jelas Mashuri.

Hal senada juga disampaikan oleh sejumlah petani kerang kepada Kadis Kominfo Dedy saat kunjungi langsung warga yang sedang mengemas hasil panennya.

Baca Juga :
Vaksinasi Tahap Pertama di Asahan Sukses, 2153 Tenaga Kesehatan Disuntik Vaksin Sinovac

Kodim 0426 Tuba Dampingi Komandan Korem 043 Garuda Hitam Tinjau Bakal Calon Batalyon Di Mesuji

Beberapa warga budidaya kerang ini juga mengeluhkan, terkadang mereka mengalami gagal panen karena pengaruh air, sedangkan bibit yang ditebar itu cukup mahal juga per kilonya. Pasokan bibit itu juga dari luar provinsi.

Para petani kerang ini berharap adanya bimbingan dari Dinas terkait untuk masalah pembibitan dan pengemasan hasil panen agar bisa lebih berkembang dan bermutu serta lebih meningkatkan nilai jual di pasaran luas. Karena menurut Meraka, selama ini para pembudi daya kerang darah tidak pernah mendapat bimbingan ataupun pelatihan.

Seperti yang diungkapkan Jamal. Mantan kakam Sei Burung ini yang juga merupakan pelaku budidaya kerang mengatakan, salah satu usaha yang dapat meningkatkan penghasilan warga adalah budidaya kerang ini.

Baca Juga :
PMII Komisariat STIT Pringsewu Ziarah Makam Pendiri Ponpes YPPTQMH

Tinggal bagaimana dari Pemerintah Daerah melakukan pembinaan supaya dapat meningkatkan hasil budidaya sehingga mengangkatkan kesejahteraan warga kampung sungai Burung,” ujar Jamal.

Diketahui, kerang darah adalah sejenis kerang yang biasa dimakan oleh warga Asia Timur dan Asia Tenggara pada umumnya. Anggota suku Arcidae menyebutnya “Kerang Darah” karena kerang itu sendiri menghasilkan hemoglobin dalam cairan merah. Kerang ini menghuni kawasan Indo-Pasifik dan tersebar dari pantai Afrika timur sampai ke Polinesia. (Zulkifli)

Berita Terkait
loading...
error: Content is protected !!