Optimalisasi Peran Mahasiswa Melalui Organisasi Ekstra Kampus

182

Penulis : Nasirudin Latif
(Alumni Sekolah Tinggi Manajemen Informatika (STMIK) Pringsewu)

MITRAKITANEWS.COM – Berdasarkan beberapa literatur, pengertian “Mahasiswa” adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dinamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.

Kata Mahasiswa dibentuk dari dua kata dasar yaitu “maha” dan “siswa”. “Maha” berarti besar atau agung, sedangkan “Siswa” berarti orang yang sedang belajar. Kombinasi dua kata ini menunjuk pada suatu kelebihan tertentu bagi penyandangnya.

Baca Juga :
Mahasiswa PTKI se-Indonesia Akan Dapat Bantuan Paket Data Internet

Momentum HAN, Ketua KOPRI PMII : Orangtua Lebih Waspada Menjaga Anak

loading...

Di dalam PP No. 30 Tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi tertentu, yaitu lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian. Dengan demikian, mahasiswa adalah anggota dari suatu masyarakat tertentu yang merupakan “elit” intelektual dengan tanggung-jawab terhadap ilmu dan masyarakat yang melekat pada dirinya, sesuai dengan “tridarma” lembaga tempat ia bernaung.

Sesuai dengan judul di sini, penulis akan mencoba membahas mengenai peran organisasi ekstra kampus terhadap mahasiswa. Salah satu fungsi Organisasi Kemahasiswaan ekstra kampus adalah suatu wadah atau tempat untuk pengaktualan diri dan mengasah jiwa intelektualitas yang dimiliki oleh setiap individu.

“Pada dasarnya setiap orang punya potensi menjadi intelektual sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya, dan dalam cara menggunakannya. Tetapi tidak semua orang adalah intelektual dalam fungsi sosial” (Antoni gramsci)

Dari tujuan setiap masing-masing organisasi, sudah jelas organisasi bukanlah tempat untuk bermanja-manjaan atau mendapatkan perhatian lebih dari senior, berkumpul, tertawa lepas bahkan untuk mengisi waktu luang saja ketika tidak ada mata kuliah. Namun sedewasa ini, banyak mahasiswa yang enggan untuk mengikuti organisasi. terkhususnya organisasi Kemahasiswaan ekstra kampus.

Mahasiswa sekarang cenderung apatis dan diam, riang dan gembira ketika memainkan gadgetnya. Ini merupakan degradasi yang semakin memperburuk kondisi idealisme seorang mahasiswa. Mahasiswa sekarang cenderung mengikuti arus kehidupan yang tak menentu.Mereka hanya akan menjadi generasi penerus dari pada generasi yang cenderung hanya memikirkan dirinya sendiri. Kebanyakan dari mereka tidak suka akan perubahan karena sifat idealis dari mahasiswa sudah mulai memudar dan terkikis. Dan diperparah karena mereka belum siap menerima akselerasi perkembangan teknologi yang semakin berkembang pesat.

Baca Juga :
Tapak Tilas Perjuangan Pendiri HMI, Bupati Ogan Ilir Pasang Prasasti di Makam Pendiri HMI Asal Ogan Ilir

Laporkan Ketua PDM Asahan Ke Bawaslu, Pengurus PC IMM Nilai Ketum Kurang Berakhlak

Padahal, dengan berorganisasi, kita akan dilatih dan diberi wawasan juga pengetahuan. Tidak hanya terfokuskan oleh satu bidang pengetahuan saja. Namun kita akan diberi pengetahuan yang sifatnya universal atau umum.

Di era globalisasi dan pesatnya perkembangan zaman ini, banyak individu yang tergerus jiwa-jiwa sosialnya. Kepekaan terhadap lingkungan, realitas sosial, bahkan kesadaran akan diri sendiri kian hilang.

Banyak mahasiswa yang terlanjur apatis juga hedonis. Hilangnya esensi terhadap nilai-nilai peran mahasiswa (agent of change, social control, Iron stock)

Padahal, jika kita ingin sedikit melihat sejarah perjuangan bangsa ini, pemuda/mahasiswa banyak berperan dalam perjuangan dalam memajukan bangsa. Pada Tahun 1965, para mahasiswa ikut serta bahkan berperan aktif dalam menurunkan rezim orde lama yang di pimpin oleh presiden Soekarno. Sedangkan pada Tahun 1998, para mahasiswa kembali turun kejalan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dengan menurunkan rezim orde baru yang di pimpin oleh Soeharto.

Baca Juga :
HMI Cabang Bacan Desak Pemda Halsel Bantu Warga Desa Doro Terkena Banjir

PMII Komisariat STIT Pringsewu Ziarah Makam Pendiri Ponpes YPPTQMH

Pada masa kedua orde tersebut, Mahasiswa dengan lantang menyuarakan kebenaran di bawah kuasa tirani. Namun kini semua itu tinggal kenangan. Banyak mahasiswa yang bungkam melihat dinamika di negeri ini. Apa mungkin memang tidak tau? Atau pura-pura tidak tau?

Pada kesempatan ini, penulis mengajak semua mahasiswa untuk berproses bersama di organisasi ekstra kampus, baik organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), maupun organisasi lainnya.

(Artikel Opini Ini Merupakan Karya Tulis Serta Pandangan Pribadi Penulis Dan Tidak Mewakili Pandangan Redaksi MitrakitaNEWS. Isi Dari Artikel Ini Merupakan Sepenuhnya Menjadi Tanggungjawab Penulis).

loading...
error: Content is protected !!