Polda Metro Jaya Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Bos Roti Asal Taiwan

222

MITRAKITANEWS.COM, Jakarta – Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan Bos Roti asal Taiwan bernama Hsu Ming Hu (52) yang tewas dengan 5 tusukan dan tinggal di Cikarang Pusat, Bekasi, Jawa Barat.

Rekonstruksi digelar di dua tempat, yakni di Halaman Resmob Polda Metro Jaya atau tempat para tersangka bertemu di Rumah Makan Alam Sari Deltamas, lalu rekonstruksi kedua di rumah korban Hsu Ming Hu, di Cikarang Pusat, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2020).

Pada tahun 2018, korban sering melakukan pelecehan seksual kepada tersangka SS dengan cara mengirimkan video-video porno ke HP tersangka SS hingga disuruh melayani korban untuk berhubungan intim. Setelah itu diketahui bahwa tersangka SS hamil dan korban tidak mau bertanggung jawab.

Kemudian korban meminta kepada tersangka SS untuk menggugurkan kandungannya dengan memberikan sejumlah uang sebesar Rp.10-20 juta dan dari situlah tersangka SS mulai sakit hati dengan Korban.

Setelah kejadian tersebut pada sekitar bulan Februari 2019 tersangka SS bercerita kepada temannya yakni tersangka FI dan tersangka SS berencana untuk mencelakakan dan melakukan pembunuhan kepada korban.

Sekitar bulan April 2019, tersangka SS meminta bantuan kepada tersangka FI untuk mencari dukun santet guna mencelakakan korban dengan cara di santet melalui dukun bayaran dan tersangka SS sudah mengeluarkan biaya untuk perencanaan dengan menyewa dukun bayaran sejumlah sekitar Rp.15 juta, namun usaha tersangka SS dengan menyewa dukun bayaran tersebut tidak pernah berhasil.

Kemudian tersangka SS meminta kepada tersangka FI untuk menyewa orang yang mau membuat korban cacat dan juga bersedia melakukan pembunuhan kepada korban.

Pada sekitar bulan Juni 2020, tersangka FI menghubungi tersangka SS yang mengatakan bahwa ada orang yang mau melakukan aksi untuk membuat korban cacat dan bersedia melakukan pembunuhan dengan meminta bayaran sebesar Rp.150 juta dan tersangka SS menyetujui dengan membayar uang muka DP Rp.30, diberikan kepada tersangka FI sebesar Rp. 25 juta sedangkan Rp.5 juta secara transfer ke rekening tersangka FI.

Kemudian tersangka FI menghubungi tersangka AF dan tersangka AF menghubungi tersangka S alias A alias J (DPO) dengan maksud untuk menawarkan eksekusi seseorang.

Setelah beberapa hari kemudian tersangka S alias A alias J (DPO) berangkat dari banjar untuk menuju ke cikarang untuk menemui tersangka AF dengan maksud membahas eksekusi seseorang yang ditawarkan oleh tersangka SS lalu bertemu di Rumah Makan Alam Sari Deltamas, Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat.

Kemudian tersangka S alias A alias J (DPO) meminta operasional mobil untuk meminta target yang akan dieksekusi dan keesokan harinya tersangka FI di hubungi oleh tersangka SS terkait mobil yang akan di pakai oleh tersangka S alias A alias J dapat di ambil di tersangka SY.

Selanjutnya pada tanggal 27 Juni 2020 sekitar pukul 13.00 WIB, tersangka S alias A alias J menjemput tersangka AF bersama tersangka FI untuk bertemu dengan tersangka SS di Rumah Makan Alam Sari Deltamas, untuk merencanakan aksi pembunuhan kepada korban.

Kemudian pada tanggal 8 Juli 2020 sekitar pukul 15.00 WIB, tersangka SS meminta kepada tersangka FI, AF, dan S alias A alias J untuk ketemuan di Rumah Makan Alam Sari Deltamas, untuk memastikan perencanaan aksi pembunuhan tersebut kepada korban.

Pada tanggal 12 Juli 2020, tersangka AF menyuruh tersangka FI untuk menanyakan kepada tersangka SS tentang bagaimana bisa masuk ke rumah korban, kemudian tersangka SS memberi tahu cara untuk masuk ke rumah korban dengan cara mengaku sebagai pegawai pajak, karena korban takut sama orang pajak dan korban mempunyai utang kepada pajak sebesar Rp 9 miliyar atas hasil usahanya selama di Indonesia.

Pada tanggal 22 Juli 2020, tersangka SS mendapat kabar dari tersangka SY bahwa asisten rumah tangga korban sedang tidak masuk kerja setelah tersangka SY melakukan pengecekan ke rumah tinggal korban di Perumahan Carribean Deltamas, Selanjutnya tersangka FI memberi tahu hal tersebut kepada tersangka AF dan ersangka AF meneruskan informasi tersebut kepada tersangka S alias A alias J. 

Pada tanggal 23 Juli 2020 sekira pukul 15.00 WIB tersangka S alias A alias J pergi ke rumah korban untuk mengintai sekitaran rumah korban bersama tersangka R (DPO).

Selanjutnya pada tanggal 24 Juli 2020 sekira pukul 07.30 WIB tersangka S alias A alias J menghubungi tersangka AF dengan maksud mengajak bertemu untuk membagi tugas masing-masing tersangka di rumah korban.

Sesampainya di rumah korban sekira pukul 15.30 WIB para tersangka turun dari mobilnya dan tersangka S alias A alias J membawa map kemudian mengetuk pintu korban dan berpura-pura menjadi petugas pajak dan setelah itu korban membuka pintu rumahnya lalu para tersangka di persilahkan masuk.

Selanjutnya tersangka S alias A alias J (DPO) berpura-pura sebagai petugas pajak dan menagih pajak sebesar Rp 9 miliyar kepada korban lalu sekira pukul 17.30 WIB tersangka S alias A alias J meminta ijin ke kamar mandi dan berpura-pura untuk kencing. 

Setelah dikamar mandi tersangka S alias A alias J mengatakan kepada korban bahwa air kerannya tidak menyala kemudian korban menghampiri ke kamar mandi dan sesampainya di pintu kamar mandi, korban langsung di tusuk bagian perut sebanyak dua kali tusukan menggunakan sangkur yang sudah di siapkan oleh tersangka S alias A alias J yang disimpan dibelakang badannya.

Setelah korban di tusuk, tersangka AF bersama tersangka R (DPO) menyusul ke kamar mandi tempat korban ditusuk. Kemudian tersangka R membersihkan lantai bekas darah dan tersangka R mengangkat korban bersama tersangka S alias A alias J (DPO) untuk dimasukan kedalam mobil.

Selanjutnya tersangka R dan tersangka AF selesai membersihkan bekas darah korban menyusul ke mobil dan korban dimasukan kedalam mobil Toyota Wish warna abu-abu dan mayat korban dibawa oleh tersangka S alias A alias J (DPO) bersama dengan tersangka R (DPO), sedangkan tersangka AF membawa mobil fortuner putih milik korban lalu para tersangka pergi meninggalkan lokasi kejadian. Kemudian tersangka AF bersama dengan tersangka R (DPO) mengunakan Mobil Fortuner Warna Putih milik korban kembali lagi untuk mengecek bercak darah yang tersisa dan membersihkan sisa-sisa bercak darah tersebut yang menempel di sebagian dinding dan lantai korban. Setelah itu para tersangka melarikan diri.

Kanit 5 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKP Rulian Syauri juga menyampaikan dalam rekonstruksi masih belum ada temuan baru terkait pembunuhan tersebut.

“Hal yang perlu didalami dalam rekonstruksi kasus ini, bahwa senjata yang digunakan untuk membunuh korban berupa pisau jenis sangkur, yang sampai saat ini masih dibawa oleh DPO,” ujarnya.

Rekonstruksi pembunuhan dilakukan sebanyak 51 adegan dirumah korban, dan empat adegan rekonstruksi perencanaan di Halaman Resmob Polda Metro Jaya.

“R dan S yang merupakan DPO ini masih kita lakukan pengejaran oleh Tim Subdit Resmob,” jelasnya Rulian. (Ridho Fadilla)

Berita Terkait
loading...
error: Content is protected !!