Praktik Kawin Kontrak yang Dinilai Rendahkan Wanita di Cianjur

121

MITRAKITANEWS.COM | Cianjur – Praktik kawin kontrak di Cianjur menjadi fenomena gunung es yang diperkirakan sudah berjalan cukup lama. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk membrantas praktik tersebut termasuk mengeluarkan aturan larangan praktik kawin kontrak.

Uang yang dihasilkan dari praktik kawin kontrak terbilang cukup lumayan. Kondisi itu membuat para perempuan tergiur untuk melakoni praktik kawin kontrak.

“Paling kecil Rp 15 juta untuk sepekan. Tapi biasanya bisa juga untuk dua minggu dengan biaya segitu. Tergantung komitmen dan perjanjian awal saja. Kalau maksimalnya tidak terhingga, bisa lebih sampai puluhan juta,” ucap Udin, Senin (7/6/2021).

Tetapi, lanjut Udin, uang yang diterima tersebut tak sepenuhnya untuk perempuan yang melakoni kawin kontrak, tetapi dibagi dua dengan perantara atau calo. “Misalnya dapat Rp 15 juta, dibagi dua, Masing-masing Rp 7,5 juta,” kata Udin.

Penikmat praktik kawin kontrak di Kabupaten Cianjur didominasi wisatawan atau warga Timur Tengah yang berkunjung ke Cianjur.

Kawin kontrak di Cianjur ternyata memberikan dampak negatif bagi perempuan yang melakoninya. Mayoritas perempuan yang melakukan kawin kontrak mengalami tekanan psikologis.

Indah (nama samaran), pelaku kawin kontrak, mengaku mulai menjalani praktik kawin kontrak usai diajak oleh temannya. Penghasilan yang besar serta barang mewah yang dimiliki temannya itu membuat Indah tergoda. Perempuan dewasa ini pun mau menjalani kawin kontrak dengan pasangan yang merupakan wisatawan asing asal Timur Tengah.

“Pertamanya diajak teman, dia bisa punya banyak uang. Kemudian sering memperlihatkan barang mewah, jadi ikut saya begitu ditawarkan,” ucap Indah, Senin (7/6/2021).

Indah mengaku menyesal dan kini sudah lelah menjalani praktik kawin kontrak. Ia menyebut wisatawan asal Timur Tengah sangat kasar saat beraktivitas seksual.

“Ya menyesal. Bukan hanya berhubungan tanpa dasar kasih sayang, tapi kalau kawin kontrak itu sering juga jadi bahan cemooh tetangga dan lingkungan. Kalau tidak kuat pasti sudah stres. Kalau bukan karena desakan ekonomi pasti sudah berhenti,” tutur Indah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur angkat bicara terkait larangan dan praktik kawin kontrak yang marak terjadi.

Ketua MUI Kabupaten Cianjur Abdul Rauf mengatakan pihaknya mendukung larangan kawin kontrak. Pasalnya, kata dia, praktik tersebut tidak sesuai dengan syariat Islam terkait pernikahan.

Menurutnya dalam pernikahan tidak diperbolehkan adanya batasan waktu. Ikrar pernikahannya pun tidak sah jika waktunya dibatasi.

“Tidak boleh, kawin itu tidak dibolehkan ada batasan waktu. Kalau ada batasan waktu, jelas menyimpang. Tidak sah nikahnya,” kata dia.

Kantor Kemenag Kabupaten Cianjur memastikan tidak ada penghulu di bawah naungannya yang terlibat dalam praktik kawin kontrak. Bahkan penghulu yang terlibat dalam praktik kawin kontrak adalah abal-abal.

Pejabat Fungsional Umum Kepenghuluan Kemenag Cianjur Gumilar menyatakan penghulu merupakan ASN akan bekerja sesuai aturan yang ada. Sehingga jika ada dalam praktik kawin kontrak itu penghulu atau P3N yang ilegal tidak mempunyai wewenang untuk melakukan pencatatan dan pengawasan pernikahan.

Bahkan disebut jika penghulu kawin kontrak merupakan masyarakat biasa yang dibalut dan didandani seolah benar-benar penghulu. (det.Edt1)

Berita Terkait
loading...
error: Content is protected !!